
Akhirnya punya waktu lagi untuk menulis review buku, sebenarnya bukan tidak ada waktu sihhh hanya lagi malas saja hahahaha. Semoga ke depan bisa lebih konsisten sharing review bacaan. OK kita lanjut, buku yang akan kita review adalah buku “The Art of Spending Money” karya Morgan Housel. Kalau menurutmu judulnya terasa familiar atau nama penulisnya tidak asing berarti kamu mungkin sudah membaca bukunya yang terkenal “The psychology of Money“. Buku lainnya yang berjudul “Same as Ever” pernah saya review sebelumnya (baca di sini).
Nahh saya sendiri pertama tahu buku The Art of Spending Money sebenarnya tidak sengaja (entah kenapa banyak buku bagus ketemu tidak sengaja :)). Waktu itu lagi buka IG, lalu lihat storynya Koh Michael Yeoh yang memperlihatkan anaknya sedang memainkan/memegang buku ini. JUJUR, IZIIINNN yang menarik perhatian saya bukan siapa yang pegang, tapi judulnya “The Art of Spending Money”. Dari situ saya langsung penasaran, cari review di internet, dan akhirnya memutuskan beli di Shopee.
Menurut saya, pemilihan kata “art/seni” oleh Morgan Housel ini menarik. Di dalam buku dijelaskan mengapa dia memilih kata “art” ketimbang “science“. Menggunakan uang mungkin bisa dipelajari seperti sains—ada rumus, teori, dan strategi. Sedangkan Seni itu rumit, kontradiktif dan sangat personal, Seni menggunakan uang menjelaskan hal-hal individualitas, keserakahan, status, sampai penyesalan.
Gambaran Umum Buku
Buku ini sangat khas Morgan Housel, sama seperti buku-bukunya yang pernah ditulis sebelumnya. Kita pasti tidak asing dengan gaya penulisannya selalu dimulai dengan cerita sederhana/storytelling yang relevan dan menarik, lalu pelan-pelan ditarik ke insightnya yang mendalam terkait suatu pembahasan. Kalau The Psychology of Money fokus pada cara kita berpikir tentang uang, kekayaan, dan investasi, maka buku ini terasa seperti part 2 nya. Di sini, penulis tidak lagi banyak bicara soal bagaimana membangun kekayaan, tapi lebih ke bagaimana kita menggunakan uang dengan bijak, dan yang tak kalah penting bagaimana menggunakan uang untuk kebahagiaan. Secara gaya bahasa, buku ini ringan dan mudah dibaca. Tapi di saat yang sama, untuk benar-benar memahami, buku ini perlu dibaca pelan dan direnungkan. Banyak bagian yang terlihat sederhana, tapi sebenarnya cukup dalam.
“Uang yang belum anda gunakan bisa membeli sesuatu yang tak berwujud tapi berharga: kebebasan, kemandirian, dan kemampuan menghabiskan waktu dengan cara anda sendiri” – Morgan Housel.
Tentu banyak sekali insight menarik dari buku ini, seperti biasa saya hanya memilih 3 yang saya rasa relevan dengan saya sendiri. Sisa lainnya silahkan kamu temukan sendiri dengan membeli bukunya.
3 Poin Penting dari Buku
1. Semua Perilaku Masuk Akal dengan Informasi yang Cukup
Ini mungkin salah satu ide paling penting di buku ini. Kita sering merasa cara kita menghabiskan uang adalah yang paling benar, dan cara orang lain salah (ini sangat kena buat saya heuheuheu). Padahal, kalau kita tahu latar belakang, pengalaman, dan informasi yang dimiliki seseorang, hampir semua keputusan keuangan akan terasa masuk akal. Jadi daripada menghakimi, buku ini mengajak kita untuk lebih memahami bahwa tidak ada satu cara “benar” dalam menggunakan uang.
2. Utang Sosial yang Sering Tidak Disadari
Ini juga menarik, kita mungkin tidak asing dengan utang dalam bentuk uang, tapi ternyata ada juga yang disebut utang sosial. Utang sosial ini adalah apa yang terjadi ketika caramu menggunakan uang mempengaruhi apa yang orang lain pikirkan tentangmu dengan cara yang tidak diinginkan. Bentuknya bisa rasa bangga diri atau bisa juga buat orang iri. Tanpa sadar, kita “membayar” ekspektasi sosial dengan uang kita. Masalahnya, utang ini jarang terasa, tapi dampaknya besar.
3. Lihatlah Mereka: Seni Tidak Peduli
Ini paling relevan di era sosial media hari ini, kita jadi sangat mudah membandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang lain liburan, beli barang mahal, atau mencapai sesuatu bisa memicu iri bahkan rasa rendah diri. Penulis mengingatkan bahwa salah satu “seni” paling berharga dalam hidup saat ini adalah tidak terlalu FOMO dan peduli dengan pendapat orang lain. Fokus pada apa yang benar untuk diri sendiri jauh lebih penting daripada mencoba terlihat sukses di mata orang lain.
Penutup
Banyak pelajaran dari buku ini yang membuat mata saya terbuka, The Art of Spending Money bukan buku yang mengajari kita cara jadi kaya, tapi cara menggunakan kekayaan/uang dengan lebih sadar. Buku ini cocok untuk siapa pun yang ingin memahami hubungan antara uang, kesadaran diri, dan kebahagiaan. Buku ini bukan tentang “berapa banyak yang kamu punya”, tapi tentang bagaimana kamu menggunakannya dengan cara yang tepat untuk dirimu sendiri. Dan mungkin di situlah letak seninya.