
Saya membeli buku The Calm Investor yang akan kita review kali ini karena belakangan (memasuki tahun 2025) saya makin tertarik dengan dunia investasi khususnya saham, tentu saja alasan lainnya karena saya banyak rungkad di crypto huhuhuhu makanya coba cari tahu lebih banyak soal investasi saham. Mulailah saya cari buku investasi saham, scroll sana-sini, dan akhirnya ketemu beberapa buku salah satunya The Calm Investor di Shopee. Judulnya menarik dan penekanannya bukan kepada teknikal tapi lebih terkait psikologis/emosional sebagai seorang investor.
Sekilas tentang Penulis dan Gambaran Umum Buku
Buku ini ditulis oleh Teguh Hidayat, seorang investor saham yang cukup dikenal di kalangan investor ritel Indonesia karena beliau fokus pada value investing. Jujur saja, pertama kali saya tahu Teguh Hidayat itu dari Twitter (X). Kesan awalnya? Sedikit aneh, kadang nyeleneh, kadang sarkas, mungkin memang sengaja biar menarik atensi publik. Tapi yang lucu, karakter di Twitter dan di buku ini beda banget (mungkin karena bukunya ditulis sudah lama kali yahh). Di buku, tulisannya jauh lebih tenang, reflektif, dan terasa matang. Bukunya ringan dan enak dibaca karena berasal dari cerita pengalaman pribadi penulis, kisahnya dari jualan di jambore sampai bahas ikan Lohan milik mas Teguh sangat menarik, di buku ini juga saya jadi tahu kalau beliau senior alumni UNPAD, salam satu UNPAD kang hehehe.
Secara garis besar, The Calm Investor terdiri dari 7 bab utama, yaitu: (1) Mengapa berinvestasi saham berbeda dengan menganalisis saham, (2) Kepribadian seorang investor (3) Cara berpikir seorang investor (4) Gaya hidup ala investor (5) Buffett tidak melakukannya, kenapa Anda melakukannya? (6) Pengalaman adalah modal terpenting investor (7) Mengapa saya panik?.
3 Poin Utama dari Buku The Calm Investor
Tentu saja banyak poin pembelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini, tapi seperti biasa saya hanya akan mengambil 3 poin yang saya anggap penting, sisanya silahkan baca sendiri. :))
1. Kepribadian Seorang Investor
Salah satu kepribadian investor adalah menghargai orang lain, ini akan membuat perasaan kita menjadi lebih enak, tenang dan tidak stress. Perasaan inilah yang nantinya menjadi modal utama seorang investor melakukan kegiatan investasinya. Bertransaksi saham jadi lebih baik kalau tidak sering berkonflik dengan orang lain.
2. Cara Berpikir Seorang Investor
Meski saat ini investasi saham sudah tidak asing di masyarakat tapi tidak semuanya adalah investor atau berpikir seperti investor. Sebagian masih menganggap berinvestasi saham berarti tambahan penghasilan atau cara cari cuan cepat untuk memenuhi kebutuhan. Padahal harusnya bukan investing for living tapi investing for a better living in the future.
3. “Buffett Tidak Melakukannya, Kenapa Anda Melakukannya?”
Bab ini cukup menohok. Teguh mempertanyakan banyak kebiasaan investor ritel yang sebenarnya tidak dilakukan oleh investor besar seperti Warren Buffett. Mulai dari terlalu sering mencari pengakuan dengan pamer profit dan merendahkan investor lain yang tidak sesuai dengan pandangannya.
Penutup
Secara umum, buku The Calm Investor adalah buku investasi yang fokus pada mindset, psikologi, dan gaya hidup investor, bukan soal teknikal atau rekomendasi saham. Buku ini cocok untuk pemula hingga investor menengah yang masih sering panik, mudah FOMO, atau cemburu melihat orang lain cuan ribuan persen (ini mahh saya). Hanya saja buku ini tidak cocok, buat kamu yang cari strategi teknikal detail atau angka-angka, mungkin bakal merasa buku ini kurang “praktis”. Tapi justru di situlah kekuatannya—buku ini mengajarkan dasar pemikiran sebagai investor yang sering dilupakan.